Kamis, 25 Juni 2015

Semua Tak Sama, Belum Tentu Beda

Hai semuanya, judul diatas muncul setelah saya mendengar lagu Semua Tak Sama dari Padi. Saya memikirkan jika semuanya tak sama artinya semuanya beda bukan?



Manusia, seperti aku dan kamu, sudah pasti tidaklah sama. Pikiran kita pun juga tidaklah sama.. Orang-orang seringkali melakukan musyawarah, rapat, meeting, kopdar dan macam-macamlah bentuknya, dengan tujuan untuk menyatukan perbedaan tersebut.. Padahal kalau dipikir ulang, namanya berbeda tidak mungkin bisa menyatu karena tidaklah sama. Pada akhirnya yang terjadi adalah menemukan suatu titik temu yang kira-kira bisa di terima semuanya.
Bahkan saya saja, kadang menemui hal-hal yang tidak sejalan dengan apa yang  saya yakini. Kadang-kadang telat dikit ketemu lampu merah berhubung merahnya belum lama langsung lah diterobos. Padahal sudah jelas itu tidak benar. Saya pun mikir, berdamai dengan diri sendiri pribadi saja kadang sulit apalagi dengan orang lain.

Dari apa yang saya lihat, manusia, orang disekitar saya umumnya berkerumun dikerumunannya sendiri, yang sebenarnya mereka memiliki kesamaan. Mereka senang bersama dengan orang yang memiliki pandangan yang sama walaupun pada kenyataannya mereka berbeda sudah pasti. Saya pun juga sama. Pada akhirnya aku dan kamu menjadi kita karena adanya kesepahaman itu.

Namun masih saja kita tidak bisa menyatu, yang ada hanyalah berusaha menjalankan apa yang sudah disepakati. Disitulah kesamaan kita, saling menjaga komitmen tersebut agar terus terjalin kesepahaman yang bisa membuat kita merasa nyaman. Jadi, sesuatu yang berbeda, belum tentu tidak sama.*eh, kok malah muter-muter ya?*

Semoga apa yang kita yakini dapat menyatukan perbedaan kita... 
Itu harapan saya, harapan kamu?

Rabu, 11 Februari 2015

When I lose you, I guess I loved you

Berkaitan dengan judul tersebut, entahlah saya menulisnya dengan benar atau tidak *since my english wasn't that good*, saya rasa kebanyakan orang terkadang merasakan hal yang sama. Saya ingat ada pepatah bule yang mengatakan "you never miss the water until it's gone". Saya pribadi merasakan hal tersebut sering terjadi. Kita akan merasa kehilangan sesuatu saat yang kita cari sudah tidak ada, entah manusia, barang, peliharaan atau apapun yang kita rasa sangat berarti. Namun, di saat 'sesuatu' tersebut masih ada di sekitar kita, kebanyakan dari kita lebih banyak tidak peduli sehingga saat sudah tidak ada lagi, barulah sadar kalau 'sesuatu' itu sangat berarti, termasuk saya. 
Tulisan ini adalah curhat? Ya, ini adalah curahan hati saya. Kalau mau sok lebay dan sok english lagi bisa saya bilang, when you'd losing a thing, life feels so gloomy, sooo gloooomyy >.< tapi selain dari ke "gloomy" an yang saya alami saya sadar kalau ini memang bisa terjadi pada siapa saja. Saya sendiri tidak suka penyesalan, karena itu biasanya saya merencanakan hidup saya dan menyadari risiko yang akan saya hadapi lebih awal. Namun, manusia itu kan pribadi yang dinamis, direncanakan sebaik apapun, tidak ada sesuatu yang sangat sempurna.

Pesan saya kali ini kepada teman-teman semua dan lebih kepada diri saya sendiri, marilah kita lebih memperhatikan, lebih peduli pada apa yang kita miliki di sekitar kita saat ini, karena kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan kehilangan. Namun, jika memang pada akhirnya hilang juga, life must go on. Situasi apapun yang kita hadapi, kita tidak punya pilihan lain selain menghadapinya. Just smile always pemirsa.

Selalu ada hal yang terjadi saat tulisan saya di turunkan di blog ini, seperti cerita saya pada kejadiaan saat hujan, yang mana pagi ini juga hujan dari subuh. Tapi kali ini aman pemirsa, baiklah mari kita lanjutkan hidup kita ^_^

Kamis, 20 November 2014

Sepenggal cerita di kala hujan, sia-siakah?

Malam ini hujan turun, mengingatkan saya pada pengalaman beberapa waktu lalu.

Sekitar tanggal 18 Nopember lalu, saya dan teman saya yang juga baru lulus kuliah mengunjungi Job Fair yang digelar di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin. Kami hanya melihat-lihat perusahaan apa saja yang ikut serta hari itu. Keesokan hari, saya kembali untuk memasukkan lamaran dengan modal berkas seadanya karena saat itu bahkan transkrip nilai pun belum saya dapat. Saya berpikir, kenapa tidak secepatnya saja saya melengkapi berkas yang mungkin diperlukan untuk melamar pekerjaan, jadi saya memutuskan untuk membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) di Polsek Banjarmasin Utara.

Usai mengunjungi Job Fair hari kedua dan hari terakhir tersebut hari sudah menjelang sore, saya mengayuh sepeda saya menuju Polsek dengan pikiran mungkin kantornya buka sampai sore. Saat hampir tiba di lokasi saya melihat langit mulai mendung, karena sudah kepalang tanggung kalau kembali lagi maka saya teruskan saja perjalanan saya. Sampai di Polsek ternyata kantor pelayanannya sudah tutup. Akhirnya saya pun kembali mengayuh sepeda dengan satu tujuan : PULANG.

Saya terus mengayuh sepeda, sampai di lampu merah seharusnya saya langsung belok kiri seperti biasa, namun karena ada mobil yang berhenti dengan ngawurnya memaksa saya mengerem mendadak dan akhirnya rantai sepeda saya lepas *apes dah*. Saya yang sejak keluar polsek menyadari sedang berkejar-kejaran dengan hujan, terpaksa menepi dulu. Setelah rantai terpasang, saya langsung kembali  mengayuh dengan cepat dan hujan pun turun tepat saat saya belok. Akhirnya saya langsung berhenti di depan penjual minuman dengan niat berteduh namun saya pikir kok rasanya ga sopan banget kalo ga beli jualannya. Kemudian, berawal dari niat numpang berteduh sayapun memesan minuman kemudian membeli makanan pada penjual di sebelahnya, sekalian makan siang pikir saya.

Saya pun menikmati makanan bersama dengan sang penjual minuman yang juga sedang menyantap sisa makanan yang tidak sempat dihabiskan karena kemunculan saya yang tidak diundang. Kami pun berbincang-bincang, dan beliau pun berkomentar 'sia-sia dong, jauh-jauh ke polsek pakai sepeda eh tutup'. Saya hanya berkata singkat kalau tidak terlalu sia-sia juga karena gara-gara tutupnya kantor pelayanan di polsek saya jadi tahu jam buka kantor tersebut dan beliau tetap keukeuh kalau itu sia-sia, tapi daripada berdebat lebih baik saya sudahi sampai disitu saja,

Kami pun terus berbincang dan bertukar informasi selama hujan waktu itu. Saya tidak terlalu terbiasa ramah dan bicara banyak pada orang yang baru saja saya kenal, tapi beliau cukup komunikatif sehingga saya pun juga jadi berbicara banyak. Beliau mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari saya dari perbincangan tersebut *yang tidak ingin saya publikasikan disini* dan saya juga merasa mendapatkan pengalaman baru.

Sampai hujan berhenti hari itu, saya merasa tidak ada yang sia-sia dengan apa yang saya lakukan hari itu. Walaupun saya berhenti  mendadak karena hujan bahkan mengeluarkan uang yang seharusnya bisa saya simpan, tapi dengan pengalaman yang saya dapatkan membuat saya merasa senang.

Panjang sekali curhat saya ini... jadi marilah kita semua terus semangat dan melihat segala sesuatu bukan hanya dari sisi buruk namun juga sisi baiknya. Tidak ada yang sia-sia, itulah yang masih tertanam dipikiran saya sampai tulisan ini diturunkan.

Bahkan saat saya berusaha mempublish tulisan ini, karena sesuatu hal membuat tulisan saya hilang, sayapun menulis ulang. Tidak sia-sia, karena berkat kejadian tersebut mengajarkan saya sesuatu yang namanya tidak menyerah dan bersabar *untuk menulis ulang* ㅠ_ㅠ

Selasa, 28 Oktober 2014

Biasa dan Luar Biasa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), biasa diartikan sebagai lazim, umum. Menurut KBBI pula, luar biasa diartikan sebagai tidak seperti biasa, tidak sama dengan yang lain.

Beberapa waktu lalu, saya dan teman berbicara tentang biasa dan luar biasa ini, membuat saya terpikir, kenapa tidak saya tulis saja.

Setiap individu itu sebenarnya luar biasa. Ini menurut saya loh ya, setiap jiwa pasti punya pemikiran yang tidak selalu sama bukan? Karena itulah, atas dasar ketidaksamaan tersebut saya berpikir bahwa setiap individu itu luar biasa. Sekalipun individu tersebut sama-sama tukang becak yang selama ini dianggap sebagai rakyat biasa, tapi belum tentu pengalaman hidupnya sama, belum tentu pemikirannya sama, belum tentu tindakannya sama. Begitu pula dengan seorang yang memiliki jabatan tinggi, tidak ada yang pernah tahu bagaimana dia meraih posisi tersebut (kecuali si empu jabatan ini berbagi kisah tentunya) dan sekali lagi, antara pemilik jabatan tinggi yang satu dengan yang lain ini memiliki pengalaman dan caranya masing-masing.

Mencermati tulisan saya yang lalu tentang yudisium, ada beberapa predikat lulusan yang diterima para sarjana sesuai dengan IPKnya. Lulus Dengan Memuaskan (LDM), Lulus Dengan Sangat Memuaskan (LDSM) dan Lulus Dengan Pujian (LDP). Lulus dengan predikat LDP sesuai dengan sebutannya mungkin akan banyak menuai pujian, tapi jangan disangka bahwa predikat LDP selalu lebih baik dari predikat LDM maupun LDSM. Bisa jadi, pemilik predikat LDM ini justru lebih memiliki banyak skill daripada predikat LDP. Begitu pula LDSM, bisa saja justru mereka-mereka ini yang lebih banyak aktif berorganisasi dan bisa menyeimbangkan nilai akademisnya. Tidak jarang pula memang lulusan dengan predikat LDP memiliki segudang prestasi baik itu prestasi akademis maupun non akademis serta aktif di organisasi serta memiliki segudang skill yang bisa menjadikannya sebagai individu yang sangat bernilai.

Semuanya yang saya tulis diatas, kita semua luar biasa. Predikat, jabatan, maupun pekerjaan semuanya memiliki nilai. Kita harus yakin dan berbangga diri pada diri kita (bukan sombong loh ya) bahwa kita adalah seorang yang luar biasa, Jangan menjadi jemawa dan jangan pula menjadi rendah diri. Kita yang paling tahu mengenai diri kita sendiri, teruslah optimis teman-teman, jangan pernah menyerah dan putus asa meraih apa yang di dinginkan.


Senin, 27 Oktober 2014

Yudisum,antara haru dan cemas

Bagaimana tidak? Yudisium merupakan sesuatu yang dinantikan mahasiswa setelah melaksanakan sidang skripsi berikut segudang revisinya. Saat yudisiumlah diketahui hasil capaian akademis seorang mahasiswa selama masa perkuliahan yang dijalani.
Saya baru saja mengikuti yudisium saya sendiri yang diadakan 27 Oktober 2014. Bertempat di Grand Palace Resto Mitra Plaza Banjarmasin, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat  untuk program non reguler atau ekstensi tempat saya menempuh pendidikan melepas 38 orang sarjana. Masing-masing tentunya memiliki capaian yang berbeda. Saya sendiri cukup bangga atas capaian yang saya raih. Selama 4 tahun terakhir tidak ada yang lebih tahu pasti apa yang saya hadapi sehingga saya bisa mendapatkan hari yudisium saya. Apabila diingat-ingat kembali, pasti rasanya lega sekali, teman-teman pun tentu  merasakan hal yang sama, dengan pengalaman yang berbeda-beda dan hasil yang berbeda pula Mungkin ada yang merasa bangga seperti saya, atau ada yang merasa menyesal karena merasa masih bisa lebih baik ataupun merasa biasa-bisa saja, namun saya meyakini tidak ada yang tidak merasa terharu kalau mengingat-ingat apa yang dialami sejak awal perkuliahan hingga bisa duduk sebagai peserta yudisium.

Bagi saya pribadi yang selalu diliputi kecemasan, seperti yang saya bahas pada blog saya berjudul Skripsi oh skripsi yang lalu, saya cemas karena sebentar lagi saya akan menjadi pengangguran. Satu hal yang pasti, sebelum saya jadi pengangguran sejati, sebelumnya saya harus mengikuti wisuda terlebih dahulu. Jadi, lebih baik nikmati dulu masa-masa ini. Selamat bagi teman-teman peserta yudisium hari ini, baik yang lulus dengan predikan lulus dengan memuaskan, lulus dengan sangat memuaskan, sampai yang lulus dengan pujian, berbangga dirilah dan selalu waspada.