Kamis, 06 Oktober 2016

[Review] Pizza OK Bento Banjarmasin

Hai semuanya, jumpa lagi dong. Kali ini yang saya mau share adalah pengalaman makan Pizza yang dijual OK Bento. Resto atau tempat makan ini menyajikan menu bento, ayam, pizza, burger, steak ayam, dan minuman pastinya. Untuk pilihan menu sih tidak terlalu banyak. Sebenarnya saya dan teman saya (sebut saja dia Abang) berkunjung kesini karena kata si Abang tuh mau cobain pizzanya. Berhubung waktu itu versi beefnya katanya habis jadilah kita pesan yang jenis Supreme (Ayam Jamur). Rotinya lumayan tebal dan toppingnya banyak, tebal deh pokoknya. Intinya waktu itu kita puas banget sama pizzanya dan sudah jelas bakal balik lagi.

Pizza Supreme OK Bento pas pertama kali coba (dok. pribadi)
Diwaktu yang lain, kemudian kita datang lagi dan sudah pasti dong pesan pizza lagi. Sayangnya, kali ini wujud pizzanya agak berbeda dengan yang kita makan sebelumnya. Bukan cuma pizzanya, cara penyajiannya pun berbeda. Barangkali si chef pizzanya beda. Topping sih sama banyak dan tebalnya hanya saya bentuknya jadi mengecil *suram* tapi rasanya sih sama.

Pizza Supreme OK Bento pas datang kedua kali (dok. pribadi)
Begitulah kira-kira pengalaman kita makan pizza di OK Bento. Oh iya, kalau kalian semua ingin mencoba, kalo gak salah sih harga Supreme Pizza yang kita pesan itu sekitar Rp20.000 kalau pikun mungkin Rp30.000, yang jelas sih dia lebih murah daripada pizza di resto ayam pesaingnya. Lokasi OK Bento yang kita datangi itu letaknya di Jl. Veteran - Martapura Lama, Sungai Lulut. Tepatnya lupa didekat mana, yang jelas kalo kewilayah Sungai Lulut pasti kelihatan kok tempatnya. Cabang lainnya sih juga ada, tapi saya juga ga ingat nih dimana *hehehe* maklum pikun.

Cipilili
Pizza Supreme OK Bento (dok. pribadi)
Sampai dengan tulisan ini diturunkan, kita belum pernah berkunjung lagi ke OK Bento. Selain karena tidak melewati lokasi itu lagi, kita juga kepingin mencoba kulineran di tempat lain yang semakin hari semakin banyak saja jumlahnya.
Ah.. kapan saya bisa punya usaha kuliner sendiri ya... Masak pun tak bisa, bisanya cuma makan... Ngarep sih...

Senin, 03 Oktober 2016

Wisata Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru

Beberapa waktu lalu saya dan teman mengunjungi Museum Lambung Mangkurat yang terletak di Jl. A.Yani Banjarbaru. Bagi kalian yang ingin berkunjung pasti mudah kok menemukannya. Bangunannya memiliki atap bubungan tinggi seperti pada rumah adat banjar.
Karcis Masuk
Biaya karcis masuknya hanya Rp2.000 untuk dewasa, kalau anak-anak beda lagi tarifnya, tentunya lebih murah. Setelah bayar sudah boleh masuk dong. Sebenarnya kawasan museumnya cukup luas, namun berhubung kita datangnya pas hari libur beberapa bangunan itu tidak buka jadi kita langsung menuju bangunan utama. Saat memasuki bangunan utama museum kita disambut dengan tata tertib pengunjung yang nampaknya lebih banyak diabaikan.
Tata Tertib

Bangunan utama ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama diisi dengan barang-barang peninggalan sejarah seperti senjata-senjata yang dulu digunakan dimasa penjajahan baik senjata penjajahnya maupun senjata dari Kalimantan Selatan. Ada pula silsilah kerajaan, lengkap dengan pakaian dan singgasananya serta barang-barang peninggalan kerajaan, namun sayangnya tidak sempat kita foto. Ada sih fotonya tapi ada muka saya jadi rasanya kurang enak dipajang. 


Lanjut kelantai 2, kita lebih banyak melihat mengenai kesenian dari Kalimantan Selatan. Contohnya seperti rumah adat Bubungan Tinggi ini. Rumah adat ini berbeda-beda untuk setiap kalangan loh, jadi bisa dibilang bentuk rumahnya menentukan tingkat sosial penghuninya. Tapi kurang lebih semuanya menggunakan jenis bubungan tinggi yang dicirikan dengan atap/bubungan sirap yang menjulang tinggi yang biasanya terbuat dari ulin (pohon kayu khas Kalimantan).




Kemudian juga ada dapur atau yang disebut "padapuran" yang fungsinya sebagai dapur orang-orang bahari. Saya pernah lihat padapuran seperti itu di rumah almarhum nenek saya, jadi besar kemungkinan jenis padapuran ini masih ada yang menggunakan hingga sekarang dengan lantai ulin serta dapur (sejenis kompor yang putih itu loh) yang terbuat dari batu.
*maafkan penampakan muka saya, saya juga kepengen narsis sama dapurnya hehehe*

Padapuran

Masih dilantai 2 masih berbau-bau khas-nya Kalimantan Selatan, seperti flora dan fauna kemudian kesenian seperti alat musik maupun tarian. Kemudian ada pula pelaminan khas Banjar. Cara menidurkan bayi pun ada loh, disebutnya "bapukung" namun tidak terfoto. Lebih baik sih pembaca sekalian kalo pada penasaran pastinya bisa langsung berkunjung saja ke Museum Lambung Mangkurat ini.

Tulisan ini saya buat hanya untuk dokumentasi pribadi saja. Karena itu, mohon maaf apabila informasi dirasa kurang lengkap karena memang niatan saya hanyalah untuk share kegiatan jalan-jalan saya yang kebetulan mengunjungi Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru.

Demikian. Sampai ketemu lagi yaa.

Taman Museum Lambung Mangkurat

Kamis, 25 Juni 2015

Semua Tak Sama, Belum Tentu Beda

Hai semuanya, judul diatas muncul setelah saya mendengar lagu Semua Tak Sama dari Padi. Saya memikirkan jika semuanya tak sama artinya semuanya beda bukan?



Manusia, seperti aku dan kamu, sudah pasti tidaklah sama. Pikiran kita pun juga tidaklah sama.. Orang-orang seringkali melakukan musyawarah, rapat, meeting, kopdar dan macam-macamlah bentuknya, dengan tujuan untuk menyatukan perbedaan tersebut.. Padahal kalau dipikir ulang, namanya berbeda tidak mungkin bisa menyatu karena tidaklah sama. Pada akhirnya yang terjadi adalah menemukan suatu titik temu yang kira-kira bisa di terima semuanya.
Bahkan saya saja, kadang menemui hal-hal yang tidak sejalan dengan apa yang  saya yakini. Kadang-kadang telat dikit ketemu lampu merah berhubung merahnya belum lama langsung lah diterobos. Padahal sudah jelas itu tidak benar. Saya pun mikir, berdamai dengan diri sendiri pribadi saja kadang sulit apalagi dengan orang lain.

Dari apa yang saya lihat, manusia, orang disekitar saya umumnya berkerumun dikerumunannya sendiri, yang sebenarnya mereka memiliki kesamaan. Mereka senang bersama dengan orang yang memiliki pandangan yang sama walaupun pada kenyataannya mereka berbeda sudah pasti. Saya pun juga sama. Pada akhirnya aku dan kamu menjadi kita karena adanya kesepahaman itu.

Namun masih saja kita tidak bisa menyatu, yang ada hanyalah berusaha menjalankan apa yang sudah disepakati. Disitulah kesamaan kita, saling menjaga komitmen tersebut agar terus terjalin kesepahaman yang bisa membuat kita merasa nyaman. Jadi, sesuatu yang berbeda, belum tentu tidak sama.*eh, kok malah muter-muter ya?*

Semoga apa yang kita yakini dapat menyatukan perbedaan kita... 
Itu harapan saya, harapan kamu?

Rabu, 11 Februari 2015

When I lose you, I guess I loved you

Berkaitan dengan judul tersebut, entahlah saya menulisnya dengan benar atau tidak *since my english wasn't that good*, saya rasa kebanyakan orang terkadang merasakan hal yang sama. Saya ingat ada pepatah bule yang mengatakan "you never miss the water until it's gone". Saya pribadi merasakan hal tersebut sering terjadi. Kita akan merasa kehilangan sesuatu saat yang kita cari sudah tidak ada, entah manusia, barang, peliharaan atau apapun yang kita rasa sangat berarti. Namun, di saat 'sesuatu' tersebut masih ada di sekitar kita, kebanyakan dari kita lebih banyak tidak peduli sehingga saat sudah tidak ada lagi, barulah sadar kalau 'sesuatu' itu sangat berarti, termasuk saya. 
Tulisan ini adalah curhat? Ya, ini adalah curahan hati saya. Kalau mau sok lebay dan sok english lagi bisa saya bilang, when you'd losing a thing, life feels so gloomy, sooo gloooomyy >.< tapi selain dari ke "gloomy" an yang saya alami saya sadar kalau ini memang bisa terjadi pada siapa saja. Saya sendiri tidak suka penyesalan, karena itu biasanya saya merencanakan hidup saya dan menyadari risiko yang akan saya hadapi lebih awal. Namun, manusia itu kan pribadi yang dinamis, direncanakan sebaik apapun, tidak ada sesuatu yang sangat sempurna.

Pesan saya kali ini kepada teman-teman semua dan lebih kepada diri saya sendiri, marilah kita lebih memperhatikan, lebih peduli pada apa yang kita miliki di sekitar kita saat ini, karena kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan kehilangan. Namun, jika memang pada akhirnya hilang juga, life must go on. Situasi apapun yang kita hadapi, kita tidak punya pilihan lain selain menghadapinya. Just smile always pemirsa.

Selalu ada hal yang terjadi saat tulisan saya di turunkan di blog ini, seperti cerita saya pada kejadiaan saat hujan, yang mana pagi ini juga hujan dari subuh. Tapi kali ini aman pemirsa, baiklah mari kita lanjutkan hidup kita ^_^

Kamis, 20 November 2014

Sepenggal cerita di kala hujan, sia-siakah?

Malam ini hujan turun, mengingatkan saya pada pengalaman beberapa waktu lalu.

Sekitar tanggal 18 Nopember lalu, saya dan teman saya yang juga baru lulus kuliah mengunjungi Job Fair yang digelar di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin. Kami hanya melihat-lihat perusahaan apa saja yang ikut serta hari itu. Keesokan hari, saya kembali untuk memasukkan lamaran dengan modal berkas seadanya karena saat itu bahkan transkrip nilai pun belum saya dapat. Saya berpikir, kenapa tidak secepatnya saja saya melengkapi berkas yang mungkin diperlukan untuk melamar pekerjaan, jadi saya memutuskan untuk membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) di Polsek Banjarmasin Utara.

Usai mengunjungi Job Fair hari kedua dan hari terakhir tersebut hari sudah menjelang sore, saya mengayuh sepeda saya menuju Polsek dengan pikiran mungkin kantornya buka sampai sore. Saat hampir tiba di lokasi saya melihat langit mulai mendung, karena sudah kepalang tanggung kalau kembali lagi maka saya teruskan saja perjalanan saya. Sampai di Polsek ternyata kantor pelayanannya sudah tutup. Akhirnya saya pun kembali mengayuh sepeda dengan satu tujuan : PULANG.

Saya terus mengayuh sepeda, sampai di lampu merah seharusnya saya langsung belok kiri seperti biasa, namun karena ada mobil yang berhenti dengan ngawurnya memaksa saya mengerem mendadak dan akhirnya rantai sepeda saya lepas *apes dah*. Saya yang sejak keluar polsek menyadari sedang berkejar-kejaran dengan hujan, terpaksa menepi dulu. Setelah rantai terpasang, saya langsung kembali  mengayuh dengan cepat dan hujan pun turun tepat saat saya belok. Akhirnya saya langsung berhenti di depan penjual minuman dengan niat berteduh namun saya pikir kok rasanya ga sopan banget kalo ga beli jualannya. Kemudian, berawal dari niat numpang berteduh sayapun memesan minuman kemudian membeli makanan pada penjual di sebelahnya, sekalian makan siang pikir saya.

Saya pun menikmati makanan bersama dengan sang penjual minuman yang juga sedang menyantap sisa makanan yang tidak sempat dihabiskan karena kemunculan saya yang tidak diundang. Kami pun berbincang-bincang, dan beliau pun berkomentar 'sia-sia dong, jauh-jauh ke polsek pakai sepeda eh tutup'. Saya hanya berkata singkat kalau tidak terlalu sia-sia juga karena gara-gara tutupnya kantor pelayanan di polsek saya jadi tahu jam buka kantor tersebut dan beliau tetap keukeuh kalau itu sia-sia, tapi daripada berdebat lebih baik saya sudahi sampai disitu saja,

Kami pun terus berbincang dan bertukar informasi selama hujan waktu itu. Saya tidak terlalu terbiasa ramah dan bicara banyak pada orang yang baru saja saya kenal, tapi beliau cukup komunikatif sehingga saya pun juga jadi berbicara banyak. Beliau mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari saya dari perbincangan tersebut *yang tidak ingin saya publikasikan disini* dan saya juga merasa mendapatkan pengalaman baru.

Sampai hujan berhenti hari itu, saya merasa tidak ada yang sia-sia dengan apa yang saya lakukan hari itu. Walaupun saya berhenti  mendadak karena hujan bahkan mengeluarkan uang yang seharusnya bisa saya simpan, tapi dengan pengalaman yang saya dapatkan membuat saya merasa senang.

Panjang sekali curhat saya ini... jadi marilah kita semua terus semangat dan melihat segala sesuatu bukan hanya dari sisi buruk namun juga sisi baiknya. Tidak ada yang sia-sia, itulah yang masih tertanam dipikiran saya sampai tulisan ini diturunkan.

Bahkan saat saya berusaha mempublish tulisan ini, karena sesuatu hal membuat tulisan saya hilang, sayapun menulis ulang. Tidak sia-sia, karena berkat kejadian tersebut mengajarkan saya sesuatu yang namanya tidak menyerah dan bersabar *untuk menulis ulang* ㅠ_ㅠ